السلام عليكم ورحمةالله وبركاته!

Deal with the problem yourself and acknowledge existence of life, but do not let yourself be mastered. Let yourself aware of the situation of education in the form of patience, happiness, and understanding the meaning

Hadapilah masalah hidup dirimu dan akuilah keberadaannya, tetapi jangan biarkan dirimu dikuasainya. Biarkanlah dirimu menyadari adanya pendidikan situasi berupa kesabaran, kebahagiaan, dan pemahaman makna.

Saturday, May 21, 2016

Makalah - Konsep Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam Islam, banyak dalil-dalil baik dalam Al-Qur’an maupun hadist yang menunjukkan betapa pentingnya kedudukan ilmu dalam Islam. Hal ini menjadi dasar betapa diperhatikannya aspek pendidikan dalam Islam.
Dalam Islam pendidikan merupakan kewajiban bagi setiap muslim baik muslim laki-laki maupun muslim perempuan. Tak hanya itu, wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah Muhammad SAW di Gua Hira adalah perintah membaca yang tentunya begitu lekat dengan dunia pendidikan.
Islam juga begitu menekankan kepada ummatnya bahwa pendidikan yang baik merupakan kunci kesuksesan baik kesuksesan di dunia maupun kesuksesan di akhirat. Olehnya itu proses pendidikan dianjurkan dimulai bahkan sebelum seseorang menjadi orang tua.
Berdasarkan penjelasan singkat diatas, maka kami tertarik mengangkat sebuah topik pembahasan tentang konsep pendidikan dalam Islam yang kami tuangkan dalam karya tulis ini.


B.     Rumusan Masalah
Dari paparan singkat yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi fokus utama pembahasan makalah kami ini adalah :
1.      Bagaimana pengertian dan hakikat pendidikan Islam?
2.      Bagaimana fungsi pendidikan Islam?
3.      Apa dasar dan tujuan pendidikan Islam?
4.      Bagaimana materi yang menjadi isi pendidikan Islam?
5.      Bagaimana idiologi pendidikan Islam?
C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah kami ini adalah untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut :
1.      Pengertian dan hakikat pendidikan Islam.
2.      Fungsi pendidikan Islam.
3.      Dasar dan tujuan pendidikan Islam.
4.      Materi yang menjadi isi pendidikan Islam.
5.      Idiologi pendidikan Islam.


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian & Hakikat Pendidikan Islam
Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya tentang pendidikan Islam, diantaranya menurut Amran Muliono  yang menyatakan bahwa “pendidikan Islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya, pola pikirnya teratur dengan rapi, perasaannya halus, profesiaonal dalam bekerja dan manis tutur sapanya.”[1]
Sedang Ahmad Dimas M, memberikan pengertian bahwa “pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam.”[2]
Sedangkan menurut Muhammad Irwan Susilo, “pendidikan Islam adalah suatu proses penamaan sesuatu ke dalam diri manusia mengacu kepada metode dan sistem penamaan secara bertahap, dan kepada manusia penerima proses dan kandungan pendidikan tersebut.”[3]
Jadi definisi pendidikan Islam adalah, pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia, tentang tempat- tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbuyah, al-ta’dib, dan al-ta’lim. Dari keriga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam adalah term al-tarbiyah. Sedangkan term al-ta’dib dan al-ta’lim jarang sekali digunakan. Padalah kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam.[4]
1.      Tarbiyah
Penggunaan istilah al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.
Menurut Syekh Ali dalam Maragustan, kata rabba memiliki arti yang banyak yakni merawat, mendidik, memimpin, mengumpulkan, menjaga, memperbaiki, mengembangkan, dan sebagainya. Jadi makna tarbiyah adalah merawat dan memperhatikan pertumbuhan anak, sehingga anak tersebut tumbuh dengan sempurna sebagaimana yang lainnya, yaitu sebuah kesempurnaan dalam setiap dimensi dirinya, badan (kinestetik), roh, akal, kehendak, dan lain sebagainya.[5]
Hal ini mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai pendidik seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia.
2.      Taklim
Istilah al-Ta’lim telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan islam. Menurut para ahli, kata ini lebih bersifat universal dibanding dengan al-Tarbiyah maupun al-Ta’dib. Al-Ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.
3.      Al-Ta’dib
Istilah ini mencakup unsur-unsur pengetahuan (‘ilm), pengajaran (taklim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Istilah takdib dapat mencakup beberapa aspek yang menjadi hakikat pendidikan yang saling berkait, seperti ‘ilm (ilmu), ‘adl (keadilan), hikmah (kebajikan), ‘aml (tindakan), haqq (kebenaran), natq (nalar) nafs (jiwa), qalb (hati), ‘aql (akal), maratib dan derajat (tatanan hirarkis), ayah (simbol), dan adb (adab).
Sebagai pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.
Makna Al-ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan.
B.     Fungsi Pendidikan Islam
Fungsi pendidikan islam secara mikro sudah jelas yaitu memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumber daya insan yang ada pada subyek didik menuju terbentuknya manusia seutuhnya sesuai dengan norma islam. Atau dengan istilah lazim digunakan yaitu menuju kepribadian muslim.
Lebih lanjut secara makro, fungsi pendidikan islam dapat ditinjau dari feomena yang muncul dalam perkambangan peradaban manusia, dengan asumsi bahwa peradaban manusia senantiasa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.
“Menurut pandangan pendidikan islam, fungsi pendidikan itu bukanlah sekedar mengembangkan kemampuan dan mencerdaskan otak peserta didik, tetapi juga menyelamatkan fitrahnya.”[6] Oleh karena itu fungsi pendidikan dan pengajaran Islam dalam hubungannya dengan faktor anak didik adalah untuk menjaga, menyelamatkan, dan mengembangkan fitrah ini agar tetap menjadi al-fithratus salimah dan terhindar dari al-fithratu ghairus salimah.
Artinya, agar anak tetap memiliki aqidah keimanan yang tetap dibawanya sejak lahir itu, terus menerus mengokohkannya, sehinggamati dalam keadaan fitrah yang semakin mantap, tidak menjadi Yahudi, Nashrani, Majusi ataupun agama-agama dan faham-faham yang selain Islam.
Betapa pentingnya fungsi pendidikan dan pengajaran di dalam menyelamatkan dan mengembangkan fitrah ini. Di pihak lain, pendidikan dan pengaajaran juga berfungsi untuk mengembangkan potensi-potensi/ kekuatan-kekuatan yang ada pada diri anak agar ia bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya maupun bagi pergaulan hidup di sekelilingnya, sesuai dengan kedudukannya sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.
C.     Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Menetapkan al-Qur’an dan hadits sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.
Secara Terminologis, Tujuan adalah arah, haluan, jurusan, maksud. Atau tujuan  adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Menurut Zakiah Darajat dalam Ramayulis, tujuan adalah “sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.”[7]
Jadi tujuan pendidikan Islam dapat didefinisikan sebagai  sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.
Sebagai bagian dari komponen kegiatan pendidikan, keberadaan rumusan tujuan pendidikan memegang peranan sangat penting. Karena memang tujuan berfungsi mengarahkan aktivitas, mendorong untuk bekerja, memberi nilai dan membantu mencapai keberhasilan.
Pendidikan Islam bertugas mempertahankan, menanamkan, dan mengembangkan kelangsungan berfungsinya nilai-nilai islami yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia. Secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran, diri manusia yang rasional, perasaan dan indra, karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah SWT, baik secara pribadi kontinuitas, maupun seluruh umat manusia.[22]
Menurut Omar Muhammad Attoumy Asy- Syaebani dalam Muhammad Irwan Susilo, tujuan pendidikan islam memiliki empat ciri pokok  yakni :
1.      Sifat yang bercorak agama dan akhlak.
2.      Sifat kemenyeluruhannya yang mencakup segala aspek pribadi pelajar atausubyek didik, dan semua aspek perkambangan dalam masyrakat.
3.      Sifat keseimbangan, kejelasan, tidak adanya pertentangan antara unsur-unsur dan cara pelaksanaanya
4.      Sifat realistis dan dapat dilaksanakan, penekanan pada perubahan yangdikehendaki pada tingkah laku dan pada kehidupan, memperhitungkan perbedaan-perbedaan  perseorangan  diantara  individu, masyarakat dan kebudayaan di mana-mana dan kesanggupanya untuk berubah dan berkembang bila diperlukan.[8]
Pendidikan Islam bertugas di samping menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan.
Hal ini berarti Pendidikan Islam secara optimal harus mampu mendidik anak didik agar memiliki kedewasaan atau kematangan dalam beriman, bertaqwa, dan mengamalkan hasil pendidikan yang diperoleh, sehingga menjadi pemikir yang sekaligus pengamal ajaran Islam, yang dialogis terhadap perkembangan kemajuan zaman.
Dengan kata lain, Pendidikan Islam harus mampu menciptakan para “mujtahid” baru dalam bidang kehidupan duniawi-ukhrawi yang berkesinambungan secara interaktif tanpa pengkotakan antara kedua bidang itu.
Jika pendidikan umum hanya ingin mencapai kehidupan duniawi yang sejahtera baik dalam dimensi bernegara maupun bermasyarakat maka Pendidikan Islam bercita-cita lebih jauh yang bernilai transendental, bukan insindetal atau aksidental di dunia, yaitu kebahagiaan hidup setelah mati. Jadi nilai-nilai yang hendak diwujudkan oleh pendidikan Islam adalah berdimensi transendetal (melampaui wawsan hidup duniawi) sampai ke ukhrawi dengan meletakkan cita-cita yang mengandung dimensi nilai duniawi sebagai sarananya.
Oleh karena itu, pendidikan merupakan sarana atau alat untuk merealisasikan tujuan hidup orang muslim secara universal maka tujuan pendidikan Islam di seluruh dunia harus sama bagi semua umat Islam, yang berbeda hanyalah sistem dan metodenya.
D.    Isi Pendidikan Islam
Berbicara mengenai isi pendidikan islam, tidak dapat dilepaskan dari kajian tujuan pendidikan yang hendak dicapai oleh pendidikan itu sendiri. Tujuan yang hendak dicapai yakni menjadikan muslim yang paripurna.
Di awal penyebaran islam, para pendakwah islam ingin masyarakat memeluk agama islam yang pada saat itu masyarakat mayoritas memeluk agama lain. Isi pendidikan islam yang diajarkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah pokok-pokok aqidah islam dan ajaran islam yang mudah dipahami dan dilaksanakan.
Dengan penyebaran islam yang begitu pesat, maka para orang tua merasa perlu dengan adanya pendidikan agama islam untuk anak-anaknya. Isi pendidikan dan pengajaran islam pada tingkat pemula meliputi: Belajar membaca al-qur’an, Pelajaran dan praktek sholat dan pelajaran Ketuhanan.
Pada tingkat pemula mempelajari al-qur’an agar anak-anak dapat membaca alqur’an dan mengulangnya hingga dapat memahaminya. Pada tingkat yang lebih tinggi diajarkan bahasa arab ushul fiqh dan fiqih.
Dengan munculnya sistem madrasah maka, pendidikan islam dapat diselenggarakan secara formal sehingga lebih teratur dan tersystem. Materi pendidikan islam  mencapai 12 macam ilmu, yaitu: Ilmu nahwu, Ilmu sharaf, Ilmu fiqih, Ilmu tafsir, Ilmu tauhid,Ilmu hadits, Ilmu musthalah hadits, Ilmu mantiq, Ilmu ma’ani, Ilmu bayan, Ilmu badi’ ,Ilmu ushul fiqh.
E.     Idiologi Pendidikan Islam
Konsep pendidikan islam secara normatif sarat dengan nilai-nilai transendeltal ilahiah dan insaniah. Semua itu dapat di wadahi dalam bingkai besar yang di sebut humanisme teosentris.
Implementasi ajaran ini dalam praktik kehidupan dan pendidikan dapat fleksibel atau luwes, selama substansinya tetap terpelihara, yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana hakikat ajaran islam, sebagai agama fitrah,memang ditujukan untuk kebutuhan manusia itu sendiri.
Sejak awal abad 20 sampai sekarang humanisme merupakan konsep kemanusiaan yang sangat berharga karena konsep ini sepenuhnya memihak pada manusia, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia untuk memelihara dan menyempurnakan keberadaannya sebagai makhluk mulia.
Dalam kontek pendidikan islam dengan pancasila sebagai ideology dan demokrasi sebagai jalan besar menuju kesuburan nasionalisme pada masing-masing sector. Maka dalam pendidikan islam khususnya lembaga pendidikan NU harus dikembangkan berdasarkan paradigma yang berorientasi pada :
1.      Paradigma pendidikan islam harus didasarkan pada filsafat teocentris dan antroprosentis sekaligus.pendidikan islam yang ingin dikembangkan adalah pendidikan yang menghilangkan atau tidak ada dikotomi antara ilmu dan agama, serta ilmu tidak bebas nilai tetapi bebas dinilai. Selain itu, mengajarkan agama dengan bahasa ilmu pengetahuan yang rasional tanpa meningkatkan sisi tradisional.
2.      Pendidikan islam mampu mengembangkan keilmuan dan kemajuan kehidupan yang intregatif antara nilai spiritual, moral dan material bagi kehidupan manusia.
3.      Pendidikan islam mampu membangun kompotisi manusia dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik berupa manusia demokratis, kompetetif, inovatif dan bermoral berdasarkan nilai-nilai islam.
4.      Pendidikan Islam harus disusun atas dasar kondisi linkungan masrarakat, baik kondisi masa kini maupun kondisi masa yang akan datang, karena perubahan lingkungan merupakan tantangan dan peluang yang harus diproses secara cepat dan tepat. Pendidikan islam yang dikembangkan sulalu diorientasikan pada perubahan lingkungan, karena pendekatan masa lalu hanya cocok bahkan sering kali menimbulkan problem yang dapat memundurkan dunia pendidikan.
5.      Pembaruan pendidikan Islam diupayakan untuk memberdayakan potensi umat yang disesuai dengan kebutuhan kehidupan masyarakat modern tanpa meninggalkan khasanah klasik. System pendidikan islam harus dikembangkan berdasarkan karakteristik masyarakat local yang demokratisasi, memiliki kemampuan partisipasi social, menta’ati dan menghargai supermasi hukum, menhargai hak asasi manusia, menghargai perbedaan (pluralisme), memiliki kemampuan kopetensi dan kemampuan inovatif.
6.      Penyelenggaraan pendidikan islam harus diubah bedasarkan pendidikan demokratis dan pendidikan yang bersifat sentralistik baik dalam menejemen maupun dalam punyusunan kurikulum harus disesuikan dengan tuntutan pendidikan demokratis dan desentralitik. Pendidikan islam harus mampu mengembangkan kemampuan untuk berpartisipasi didalam dunia kerja, mengembangkan sikap dan kemampuan inovatif serta meningkatkan kualitas manusia.
7.      Pendidikan islam lebih menekankan dan diorientasikan pada proses pembelajaran, diorganisir dalam struktur yang lebih bersifat fleksibel, menghargai dan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang untuk situasi masa lalu dan sering tidak tepat jika diterapkan pada kondisi berbeda memiliki potensi untuk berkembang, dan diupayakan sebagai proses berkesinambungan serta senantiasa beriteraksi dengan lingkungan.
8.      Pendidikan islam harus diarahkan pada dua dimensi, yaitu “pertama, dimensi dialektika (horisotal) yaitu pendidikan hendaknya dapat mengembangkan pemahaman tentang kehidupan manusia dalam hubungan lingkungan sosiol dan manusia harus mengatasi tantangan dunia sekitarnya melalui pengembangan iptek, dan kedua, dimensi ketundukan vertical,yaitu pendidikan selain sarana untuk memantapkan, memlihara sumberdaya alam dan lingkungannya, juga memahami hubungannya dengan sang maha pencipta, yaitu allah SWT “
9.      Pendidikan islam lebih diorientasikan pada upaya” pendidikan sebagai proses pembebasan, pendidikan sebagai proses pencerdasan, pendidikan menjunjung tinggi hak-hak manusia. Penidikan menghasilkan tindakan perdamaian,pendidikan sebagai proses pemberdayaan potensi manusia, pendidikan menjadikan anak berwawasan integatif, pendidikan sebagai wahana membangun watak persatuan, pendidikan menghasilkan manusia demokratis, pendidikan menghasilkan manusia perduli terhadap lingkungan” , dan harus dibangun suatu pandangan bahwa ”sekolah bukan satu-satunya instrument pendidikan”
Akan tetapi masyarakat dan semua tang bersinggungan dalam keseharian kita merupakan instrumen pendidikan. Dengan kesembilan poin dasar paradigma pedidikan islam ini, dapat kita simpulkan bahwa islam sebagai sebuah system keyakinan akan mampu memberikan perubahan dan kemajuan bangsa ini dari segala sector kehidupan tanpa harus mengorbankan golongan lain dengan alasan islamisasi atau formalisasi syariat islam yang telah nyata akan meruntuhkan kesatuan berbangsa dan bertanah air Indonesia.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pada uraian singkat makalah kami ini, maka dapat ditarik poin-poin kesimpulan sebagai berikut :
1.      Pendidikan Islam adalah, pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam diri manusia, tentang tempat- tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan kepribadian.
2.      Fungsi pendidikan islam yaitu memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumber daya insan yang ada pada subyek didik menuju terbentuknya manusia seutuhnya sesuai dengan norma islam. Lebih lanjut, fungsi pendidikan islam dapat ditinjau dari feomena yang muncul dalam perkambangan peradaban manusia, dengan asumsi bahwa peradaban manusia senantiasa tumbuh dan berkembang melalui pendidikan.
3.      Al-Qur’an dan hadits merupakan dasar pendidikan Islam, hal ini merupakan kebenaran yang didasarkan pada keimanan dan dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan. Sedangkan tujuan pendidikan Islam dapat didefinisikan sebagai  sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.
4.      Mengenai isi pendidikan islam, tidak dapat dilepaskan dari kajian tujuan pendidikan yang hendak dicapai oleh pendidikan itu sendiri. Tujuan yang hendak dicapai yakni menjadikan muslim yang paripurna.
5.      Idiologi pendidikan islam secara normatif sarat dengan nilai-nilai transendeltal ilahiah dan insaniah. Semua itu dapat di wadahi dalam bingkai besar yang di sebut idiologi humanisme teosentris yang implementasi ajarannya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana hakikat ajaran islam, sebagai agama fitrah,memang ditujukan untuk kebutuhan manusia itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

M, Ahmad Dimas. 2003. Ilmu Pendidikan Islam. Cirebon: Lentera Hati.

Maragustan. 2010. Mencetak Pembelajaran Menjadi Insan Paripurna (Pendidikan Islam). Yogyakarta: Muha Litera.

Muliono, Amran. 2007. Pendidikan Islam di Nusantara. Yogyakarta: Insan Kamil Press.

Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis & Praktis. Jakarta: Ciputat Press.

Ramayulis. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. Ke-5. Jakarta: Kalang Mulia.

Susilo, Muhammad Irwan. 2002. Pendidikan Islam. Yogyakarta: Graha Media Press.



[1] Amran Muliono, Pendidikan Islam di Nusantara (Yogyakarta: Insan Kamil Press, 2007), h. 6.
[2] Ahmad Dimas M, Ilmu Pendidikan Islam (Cirebon: Lentera Hati, 2003), h. 11
[3] Muhammad Irwan Susilo, Pendidikan Islam (Yogyakarta: Graha Media Press, 2002), h. 8
[4] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis & Praktis (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 25
[5] Maragustan, Mencetak Pembelajaran Menjadi Insan Paripurna (Pendidikan Islam) (Yogyakarta: Muha Litera, 2010), h. 22
[6] Samsul Nizar, ibid, h. 34
[7] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. Ke-5; Jakarta: Kalang Mulia, 2006), h. 133
[8] Muhammad Irwan Susilo, ibid, h. 24
Read more ...
Belajar Blog dan SEO di trikmudahseo.blogspot.com - Support www.evafashionstore.com